Persoalan sampah di Kabupaten Bojonegoro kian berada pada titik mengkhawatirkan. Volume sampah harian yang terus meningkat tidak sebanding dengan kapasitas pengelolaan yang tersedia.
Kondisi ini berdampak pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang semakin mendekati batas overload, sementara kesadaran pengelolaan sampah dari sumber masih tergolong rendah.
Merespons kondisi tersebut, sejumlah komunitas peduli lingkungan di Bojonegoro menggelar Diskusi Organik bertajuk “Bojonegoro Darurat Sampah, Kita Harus Bagaimana?” di Baresta Cafe pada Jumat malam (16/01/2026).
Kolaborasi Lintas Komunitas dan Akademisi
Diskusi Organik yang diinisiasi oleh Alas Institute ini berlangsung partisipatif dengan menghadirkan berbagai komunitas lingkungan, akademisi, hingga perwakilan media lokal Bojonegoro.
Komunitas dan lembaga yang hadir antara lain:
- World Cleanup Day (WCD)
- Mapala UNIGORO & LPPM UNIGORO
- Manupela UNUGIRI
- Majelis Lingkungan Hidup (MLH)
- LLHPB PDNA Bojonegoro
- Forum Lintas Desa
- YTPI
- Simba
- Komunitas Independen
Kehadiran perwakilan media diharapkan dapat memperkuat gaung isu darurat sampah agar menjangkau masyarakat luas.
Akar Masalah dan Tantangan Utama
CEO Alas Institute, Danial Abidin, menyoroti fakta bahwa sebagian besar sampah di Bojonegoro masih berakhir di TPA tanpa pemilahan yang memadai. Padahal, komposisi sampah didominasi oleh material organik dan anorganik yang sejatinya masih bisa dikelola melalui konsep 3R (reduce, reuse, recycle).
“Minimnya fasilitas pendukung, keterbatasan edukasi, serta belum masifnya gerakan berbasis komunitas dinilai menjadi tantangan utama.” tutur Danial Abidin.
Rencana Aksinyata Kolaboratif
Diskusi Organik ini menghasilkan beberapa kesepakatan dan rencana tindak lanjut:
- Gerakan dari Sumber Sampah: Mendorong pemilahan dan perilaku hidup bersih mulai dari tingkat rumah tangga hingga kegiatan publik.
- Penerapan Zero Waste Event: Mewajibkan konsep minim sampah dalam setiap acara komunitas dan publik sebagai bentuk edukasi langsung.
- Aksi Lingkungan Berkala: Mengagendakan kampanye pilah sampah, manajemen pengolahan, serta aksi bersih lingkungan secara kolaboratif dan berkelanjutan.
Melalui diskusi ini, para peserta menegaskan bahwa persoalan sampah membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan menjadi titik balik bagi Bojonegoro untuk keluar dari status darurat sampah.