Warga Desa Trucuk, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tampak antusias mengikuti praktik pemilahan dan pengelolaan sampah yang digelar di desa setempat pada Selasa (17/02/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari Gerakan Bersama Pengelolaan Sampah dan Penerapan Perilaku Hidup Bersih (Gerbang Sapu Bersih) di Desa Trucuk. Turut hadir dalam acara ini Kepala Desa Trucuk Sunoko, perangkat desa, pengurus bank sampah, tim Alas Institute, serta warga setempat.

Ubah Sampah Jadi Potensi Tabungan

Kepala Desa Trucuk, Sunoko, mengapresiasi keterlibatan aktif masyarakat. Menurutnya, pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga dapat menjadi peluang tambahan penghasilan bagi keluarga.

“Melalui pemilahan sampah dari rumah, warga bisa memisahkan sampah organik dan anorganik. Sampah anorganik yang memiliki nilai jual dapat dikumpulkan dan dijual,” ujarnya.

Dalam praktik tersebut, warga diajarkan cara memilah sampah rumah tangga dan mengidentifikasi jenis sampah anorganik yang bernilai jual. Ibu-ibu rumah tangga dan pengurus bank sampah terlibat langsung membawa sampah yang sudah dipilah rapi dalam karung, seperti botol plastik, kardus, kertas, hingga besi.

Sampah-sampah tersebut kemudian ditimbang dan dicatat secara rinci. Nilai ekonominya langsung dimasukkan ke dalam buku tabungan masing-masing warga yang dapat dicairkan pada waktu tertentu.

Antusiasme Warga dan Komitmen Keberlanjutan

Salah satu warga, Badi, mengaku senang dengan adanya kegiatan ini karena sampah yang biasanya langsung dibuang kini memiliki nilai tambah.

“Kalau bisa dikelola dan ada hasilnya untuk tambahan belanja, tentu kami sangat terbantu. Selain itu lingkungan juga jadi lebih bersih,” ujar Badi’.

Perwakilan Alas Institute, Achmad Danial Abidin, menjelaskan bahwa praktik ini merupakan langkah awal membangun kesadaran kolektif agar pengelolaan sampah tidak hanya berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi kebiasaan sehari-hari dari sumbernya.

“Kami ingin mendorong gerakan bersama agar pengelolaan sampah tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi kebiasaan sehari-hari. kegiatan seperti ini dampaknya bukan hanya lingkungan bersih, tetapi juga ada nilai ekonomi yang bisa dirasakan warga,” katanya.

Pemerintah Desa Trucuk bersama Alas Institute berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan lanjutan guna memastikan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat ini berjalan secara berkelanjutan.